Home Buah Alpukat asal Garut tembus Jepang dan Belanda

Alpukat asal Garut tembus Jepang dan Belanda

13
0

Sepintas, pengadaan alpukat seperti halnya terbatas untuk kebutuhan dalam negeri. Padahal sebenarnya, alpukat asal Garut juga mampu menembus pasaran luar negeri. Menurut lijang Muchyidin, bandar di Garut vang rutin memasok 10-18 ton/minggu menunjukkan, alpukat Garut diminati masyarakat manca negara. la memang tidak mengetahui dengan jelas berapa jumlah dan kualitas yang diperlukan. Tahunya, alpukat yang dikirimnya ke grosir, selain dimasukkan ke pasar swdayan dan pengusaha es campur, ternyata ada juga yang diekspor ke Belanda dan Jepang.

Garut yang pernah memproduksi alpukat sampai 12.931 ton per tahun, masih kelabakan memenuhi permintaan Jakarta dan Bogor. Padaal daerah Moga dan Batu seringkah membantunya.

Garut ternyata tidak hanya dikenal dengan jeruk atau dombanya, mutu dan produksi alpukat sudah latah dijadikan standar kevakinan konsumen. Di Jakarta, Bogor, dan k.ota besar lainnya di Jawa Barat, para grosir dan pengecer senantiasa mengutamakan keberadaan alpukat tersebut. Tidak heran jika 0: daerah yang pantas disebut sentranya buah “berlemak tinggi” itu tidak terlihat over produksi. Lain dengan kondisi sebelum tahun 80-an, di saat musim, hamparan buah alpukat selalu membanjiri pelataran penampungan. Sekarang tidak demikian, bandar-bandarnva yang berjumlah relatif banyak telah berhasil memperbaiki aspek pemasaran. Puluhan, bahkan, ratusan ton alpukat setiap minggu dikirim untuk memenuhi permintaan Supermarket, restoran, pengusaha es campur, dan pasaran umum.

Jakarta paling “haus”

“Sebenarnya kualitasnya biasa-biasa saja. Biarpun kecil yang pen. ting tua, dan jenisnya pun kadang-kadang beragam, tidak seluruhnya mentega,” ujar Lijang Muchyidin. Pedagang mengakui jenis mentega itulah yang banyak dicari pembeli. Alasannya, rasa dan warnanva lebih menarik. Jenis lain pun diminta. Menurut Bunyamin, pedagang pengumpul sekaligus bandar, “Inggris justru memilih alpukat batok yang menurut beberapa orang kurang enak.” KeL istimewaan jenis batok ini lebih tahan dibanding mentega. Kalau mentega bisa tahan 2- 3 hari setelah matang, batok sampai satu minggu.

Bibit masih impor

Selain masih impor bunga potong, petani di Indonesia juga masih mengimpor bibitnya. Iin Hasim, misalnya, sudah 10 tahun impor bibit dari negara kincir angin 3 bulan sekali. Demikian halnya dengan Emil dan Puskopbindo.

Impor bibit terpaksa dilakukan untuk memenuhi standar internasional, yaitu panjang tangkai bunga minimal 60 cm. Tetapi bibit impor yang digunakan berkali-kali akan menghasilkan bunga yang kurang menarik. Panjang tangkai tidak dapat memenuhi target internasional. “Oleh karena itu setiap kali saya harus mengimpor bibit lagi,” tutur Iin.

Melihat cerahnya prospek penjualan kri-san, Hendrich A. Lang, direktur PT Politani mulai memproduksi bibit melalui kultur ja-ringan. Saat ini ordernya mencapai 50.000 tanaman. “Mother plantnya saya ambil dari Kostarika, karena jenisnya cocok untuk ne-gara tropis, seperti di Indonesia,” ujar Lang. Harga bibitnya ia jual Rp 570,00 per tanam-an, sudah termasuk biaya royalti.

Bila Indonesia mampu menghasilkan bi-hit serta bunga potongnya sendiri dengan mutu yang memenuhi standi Internasional, tidak mustahil konsumen ledih memilih krisan lokal ketimbang impor. “Kalau ada setiap hari, dari lokal pun saya mau terima,” ujar Niar

Menurut Bunyamin, “apapun jenis alpukat yang dihasilkan, sekitar 70 ton/minggu dari delapan tempat penampungan di kecamatan Karangpawitan dan Wanaraja, 20 toniminggu dari Bayongbong dan Samarang, serta puluhan ton dari kecamatan lainnya, diangkut ke Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Cipanas, Tasik, Cirebon, dan sekitarnya.” Bandung semenjak dua tahun terakhir ini mulai meminta 2 ton/minggu alpukat Garut. Padahal kita tahu daerah Lembang penghasil alpukat yang tidak bisa dianggap remeh, yakni 40-50 ton/minggu. Cianjur, Tasik, Cirebon, dan kota lainnya rata-rata meminta 2 ton/minggu. Yang paling “haus” adalah Jakarta kemudian diikuti Bogor. “Jakarta mungkin perlu sekitar 15 tonlhari, karena mendatangkan alpukat tidak dari Garut semata, Moga dan Batu pun ikut menyuplai,” ungkap Bunyamin.

Pelacakan Subhur ke Bogor meyakinkan bahwa permintaan alpukat memang cukup tinggi. Agus Sulaeman, grosir di Bogor, setiap minggunya membutuhkan 12-20 ton untuk pengadaan di pedagang-pedagang pengecer, sedangkan Udin perlu 10 ton/ minggu untuk memenuhi permintaan Hero dan Es Teler 77. Menurut Udin, “Hero setiap minggunya membutuhkan alpukat 5 ton, dan Es Teler 77 meminta 8 kuintallhari. Bandar-bandar dari Garut kadang-kadang tidak bisa memenuhi semua permintaan, hingga terpaksa mendatangkan alpukat dari Jawa Timur. Tetapi selama Garut masih mampu, pasti alpukat lain tidak bisa masuk,” Agus Sulaeman berpendapat.

Untuk memenuhi permintaan berbagai kota besar itu, tidak jarang M. Gofar harus mengerahkan anak buahnya mencari alpukat ke pelosok-pelosok. “Sewaktu persediaan banyak, satu hari bisa mengumpul 2 ton, dan di kala sedikit minimal 1 ton,” cetus M. Gofar.

Harga eceran selalu tinggi

Walaupun istilah panen raya alpukat ja-rang terjadi, harga pembelian di tingkat petani tetap berfluktuasi, yakni antara Rp 200,00-600,00/kg. Harga terendah biasanya berlangsung dari Desember-Februari, dan mulai menaik di pertengahan Maret. Penyebab utama, naik-turunnya harga adalah cuaca. Di saat cuaca cerah permintaan jauh lebih tinggi, dampaknya harga di tingkat petani terangkat, dan akan terjadi sebaliknya jika terus-menerus turun hujan.

Perbedaan pengumpulan antar musim kurang begitu mencolok karena alpukat tidak punya batas musim yang jelas. Produksi alpukat terus-menerus sepanjang tahun. Hal ini memungkinkan setiap bandar kontinyu mengirim dua kali seminggu minimal 5 ton/ kirim dengan waktu dan tujuan yang berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here