Home Sayur Gambaran budidaya kentang di Dieng

Gambaran budidaya kentang di Dieng

17
0

Kurang lebih beginilah gambaran budidaya kentang di Dieng; Subhur menghubungi Tjahjono, Kasi Produksi Dipertan Kab. Wo-nosobo, dan beberapa petani, di antaranya H. Abdul Jamil, Muntaha, .dan Sugito At-mopawiro. Langkah budidaya kentang yang mereka lakukan selama ini sebagai berikut.

Permintaan kentang di dalam dan luar negeri yang terus meningkat diharapkan dapat dipenuhi dengan perluasan areal tanam. Namun dataran tinggi yang cocok ditanami kentang di indonesia, jumlahnya terbatas sehingga perlu penanganan budidaya yang tepat untuk memperoleh hasil tinggi.

Penanaman kentang yang sesuai adalah pada daerah di ketinggian 500-3.000 m dpl, suhu rata-rata 15° – 20° C dengan kelem-bapan nisbi udara antara 80-90 %. Curah hu-jan pada bulan basah adalah 200-300 mm/ bulan atau sekitar 1.000 mm per masa tanam (4 bulan). Di samping itu, kentang akan tumbuh subur pada tanah vulkanis yang gembur dan banyak mengandung humus.

Daerah demikian sebenarnya banyak terdapat di Indonesia. Namun menurut be-berapa eksportir tidak semua daerah bisa menghasilkan kualitas kentang yang baik. Salah satu yang cocok ditanami kentang adalah daerah Dieng yang terdiri dari Kec. Kejajar (Wonosobo) dan Kec. Batur (Banjarnegara), Jawa Tengah. Daerah Dieng terletak pada ketinggian antara 1.400-2.000 m dpl, suhu udara berkisar 12° – 25° C, dan kelembapan udara nisbinya lebih dari 60 %. Ditambah lagi rata-rata curah hujan 2.929 mm/tahun dan jumlah hari hujan yang sesuai untuk pertanaman kentang 194 hari/tahun.

 

Varietas tepat dan bibitnya prima Hasil yang tinggi dapat diperoleh dari pemilihan varietas yang tepat dan bibit yang baik. Varietas yang tepat digunakan, dapat diketahui berdasarkan pengujian atau mela-lui pengalaman petani. “Kentang yang paling cocok ditanam di Dieng adalah varietas Gra-nola,” tutur H.A. Jamil. Menurut Sugito A., pada awalnya petani menanam kentang va-rietas Arinsa dan Catella, tapi produksinya rendah. Selain itu ada juga petani yang me-nanam varietas Diamant. Hasilnya baik, te-tapi bila dibibitkan lebih dari dua kali mudah busuk. Menurutnya syarat bibit yang baik ha-rus bebas dari bibit penyakit dan cukup umur panen. Selain itu, saat tanamnya harus tepat yaitu antara Maret-Mei.

Kebutuhan bibit kentang untuk lahan satu hektar sebanyak 1.500-2.000 kg tergan-tung ukurannya. Kalau bibitnya berukuran kecil, petani Dieng membutuhkan 1.500 kg. Bibit yang digunakan harus telah disimpan 3-6 bulan. Umbi yang baru dipanen akan mengalami masa dormansi hingga pertum-buhannya tidak seragam, sebagian bibit bu-suk, dan produksinya rendah.

Bibit kentang bisa dibeli dari penangkar atau membibitkan sendiri. Bila membibitkan sendiri harus memperhatikan beberapa hal, ll Kentang yang akan dijadikan bibit harus di-panen pada umur 120 hari atau lebih,” ujar Sugito A. Kalau panen dilakukan pada usia kurang dari 120 hari umbi jadi mudah busuk sehingga tidak baik digunakan untuk bibit. Di samping itu, “Kentang hanya baik ditanam sampai generasi kelima,” tutur Tjahjono. Setelah itu petani harus membeli bibit kentang generasi Fo lagi. Kalau bibit ini ditanam terus-menerus mengakibatkan produksinya rendah karena terjadi akumulasi bibit penyakit, seperti virus daun menggulung, virus X kentang, dan virus Y kentang yang terbawa oleh bibit.

Cara membuat bibit kentang yang dila-kukan petani Dieng adalah sebagai berikut. Umbi hasil panen dipilih yang kecil-kecil (ukuran 3-4 cm), kemudian ditaburiSevin 85 S sebanyak 1 kg/ton atau dicuci dengan Curacron 2 1/200 liter air agar bibit terhindar dari serangan hama. Bibit yang telah diberi Sevin atau Curacron dihampar di atas balai-balai selama satu bulan. Kemudian dilakukan penyortiran dan umbi yang sehat ditaburi Sevin 85 S sebanyak 1 kg/ton sebelum dimasukkan ke dalam keranjang dan disimpan di gudang. Gudang harus memiliki sirkulasi udara baik, kelembapan tinggi, dan suhu udara sekitar 25 C agar bibit dapat disimpan sampai 5 bulan. Menurut Sugito A., selama masa penyimpanan, bibit harus disortir setiap bulan untuk membuang yang busuk agar tidak menular pada yang sehat.

Pengolahan tanah dan pemupukan

Pengolahan tanah dilakukan dua kali. Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan cara membalik tanah. Dan yang kedua memecahkan gumpalan tanah sekaligus membuat alur tanam (garitan) dengan jarak 70 cm. Kemudian dimasukkan pupuk kandang sebanyak 20-30 ton/ha, dan di atasnya campuran pupuk buatan yang terdiri dari Urea 500 kg/ha, TSP 300 kg/ha, dan KC1200 kg/ha dengan jarak 25-30 cm. Dosis pupuk tergantung pada kesuburan pH tanah, dan keadaan lingkungan. Sehingga dosis pemupukan bisa berubah-ubah. Pemupukan hanya dilakukan satu kali pada saat tanam.

 

Perawatan tanaman

Mulai 20 hari setelah tanam dilakukan perawatan seperti penyemprotan pestisida, pembumbunan, dan penyiraman. Penyem-protan fungisida dilakukan pada umur 20- 90 hari. Selang waktunya tergantung pada musim. Di musim hujan 2-4 hari dan pada musim kemarau 7 hari. Fungisida yang di-gunakan campuran Daconil 75 WP dengan Dithane M-45 atau Vondozeb 80 WP dengan perbandingan 1 : 1. Dosis fungisida sekali penyemprotan pada musim hujan 1.5-2 kg/ ha. Pada musim kemarau 1 kg/ha. Jika ada serangan hama ditanggulangi dengan Curacron sesuai dosis anjuran. Penyemprotan biasanya dilakukan pada pagi hari.

Setelah itu, di antara pupuk buatan da-lam garitan diletakkan bibit kentang yang te-lah bertunas lalu ditutup dengan tanah setebal 5-7 cm. “Jangan menimbunnya terlalu dalam sebab akan menghambat pertumbuhan dan akan banyak bibit yang busuk,” jelas A. Ja-mil. Yang baik, bibit mulai muncul di atas tanah 10-15 hari setelah tanam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here