Home Rawat Krisan Mahal, Minat Pembeli Tidak Berkurang

Krisan Mahal, Minat Pembeli Tidak Berkurang

14
0

Meskipun harga cukup tinggi, minat konsumen untuk membeli Krisan tidak pernah berkurang. “Sekalipun floris menjual Rp 500,00 per kuntum, tetap dibeli konsumen,” ungkap Iin.

Saat ini krisan menjadi primadona bunga potong. Importir, petani maupun fioris kewalahan unt.uk memenuhinya. Apalagi di saat Lebaran, Natal, dan Imlek, permintaan pada satu importir bisa sampai 200 ikat per hari. Saat ini krisan masih harus diimpor dari Belanda, Malaysia, New Zealand, dan Australia, jenis dan warnanya ada “1.001” macam, jadi kelihatan seperti nuansa pelangt,” ungkap Iin Hasim pengusaha bunga potong di jakarta menggambarkan keindahan krisan. Namun menurut Iin, yang banyak ditemui di pasaran dan disukai adalah tipe spray, karena tipe ini punya banyak kuntum dibanding tipe standar yang hanya mempu-nyai 1 kuntum per tangkainya.

Bunga ini lebih tahan lama, “Bahkan dengan perawatan yang benar bisa tahan 10 hari dalam jambangan,” ujar Iip Wahyudi, kepala bagian pemasaran Pusat Koperasi Bunga Indonesia (Puskpbindo). Tak heran pencinta bunga amat menyukainya.

Di pasar, krisan dijual berupa bunga po-tong, “pot plant”, dan dalam bentuk rangkaian. Harga yang dipasang di tingkat produsen per ikatnya berkisar antara Rp 6.000,00-Rp 7.500,00, sedangkan harga krisan “pot plant” yang dipasang lin cukup mahal, bisa sampai Rp 3:000,00 per pot. Sementara yang dijual florisfloris untuk rangkaian krisan minimum Rp 50.000,00.

 

Permintaan menggebu

Inilah kelebihan krisan. Pada saat pasaran bunga potong lainnya mengalami penurunan, krisan justru mencuat. Sekali pun produsennya sudah ada di Indonesia, per-mintaannya tetap besar. “Krisan susah sekali didapat, padahal penggemarnya banyak. Sedangkan produksi lokal tidak bisa diharap kan kontinuitasnya, bahkan sering tidak ada sama sekali,” ujar Niar Csman Yamin, pimpinan Yamin Flowers, jakarta Selatan.

Hal ini juga diakui Iin vang saat ini me-rupakan pemasok krisan terbesar di Indone-sia. “Rutinnya, setiap hari saya harus menyediakan 200 ikat. Ini- pun belum dihi-tung permintaan mendadak,” ujarnya kepada Subhur. Sementara Emil Ostra, bos produsen bunga PT Nusa Indah Hortimex mengaku baru sanggup memasok 2-3 kali seininggu. Itu pun hanya 50-75 ikat setiap kali panen. Sedangkan Puskopbindo baru menghasilkan 20-25 ikat.

Lain halnya Tomi Budiutomo, direktur PT Tata Wisata. Ia tidak mau repot-repot memproduksinya dan mengimpornya dari Malaysia. Namun jatah 300 ikat yang dikirim 2-3 minggu sekali masih dirasa kurang, terlebih lagi pada hari lebaran dan hari besar lainnya, ia mengaku harus impor bukan hanya dari Malaysia, tetapi juga dari New Ze-aland, Srilangka, Australia, dan Belanda.

Lain halnya dengan Iin. “UntUk menu-tup kekurangan, jatah untuk langganan saya kurangi atau diganti dengan bunga lainnya,” tutur Iin mencoba memecahkan masalah kekurangan persediaan. Dalam keadaan demikian, tentu saja harga jadi terkatrol naik. “Krisan impor dari Belanda yang per ikat hanya berisi 5 tangkai mencapai Rp 12.500,00- Rp 15.000,00,” tutur Toni. Sementara harga yang ditetapkan produsen lokal maupun importir biasanya meningkat 25-50 %, dan di tingkat floris otornatis peningkatannya pun sebesar itu.

Selain bunga potong, krisan dalam pot mulai banyak dipesan peminat. “Peminatnya kebanyakan hotel-hotel berbintang di Jakarta,” tutur Iin. “Jika musim pernikahan, permintaannya luar biasa. Saya sering kehabisan stok,” keluhnya. Selain Iin, Emil pun kini mulai menanam krisan “pot plant”, tetapi saya belum tahu pasarannya; karena baru 2 minggu berhasil diparien,” tuturnya.

Apapun masalahnya, “Sekarang krisan banyak dicari, bahkan hampir menggeser ke-dudukan Anyelir yang sangat laris di pasar-an”, tutur Iin. “Sehari saya membutuhkan sampai 10 ikat, petani lokal hanya mengirim 5 ikat, dan importir 20 ikat per minggu,” ungkap Evi.

Setelah berumur 2 tahun, Spathyphyllum dapat disewakan atau dijual. Menurut Iin, jika sudah 1 atau 2 kali disewakan dalam ruangan, maka untuk pemulihan tanaman ini perlu diistirahatkan di luar ruangan selama 1 bulan.

Melihat kelebihan itu, mengusahankan Spathyphyllum tentu saja menguntungkan. Apalagi jika bibit tanaman ini sudah mudah diperoleh. Bukan tidak mungkin Spathy-phyllum dapat menyamai Anthurium yang sudah lebih dulu komersial.

Untung besar dapat diraih

“Penjualan krisan ternyata menguntungkan, tapi keuntungan tersebut saya gunakan lagi untuk menambah luas tanah,” ungkap Iin yang merniliki 6 ha lahan, khusus ditanami krisan. “Lebih untung lagi floris,. sebab mereka tidak mempunyai resiko seperti halnya produsen,” tutur Iin.

Pernyataan lin memang beralasan, sebab floris-floris biasanya menjual secara “lepasan” maupun rangkaian. “Di hari biasa saya sanggup menjual Rp 1.500,00 per tangkai, sedangkan menjelang hari besar hargainenjadi Rp 2.500,00,” tutur Evi. Bah-kan Niar sanggup menjual krisan impor dari Belanda Rp 5.000,00 per tangkai. Sementara modalnya Rp 6.000,00 per ikat, berisi 12 tangkai.

Bila pasaran sedang sepi, krisan biasanya dijual dalam bentuk rangkaian bersama bunga lain. “Dalam satu rangkaian paling banyak menggunakan 2 tangkai krisan,” tutur Evi. Harga minimumnya Rp 50.000,00. Itulah sebabnya Iin pun mulai ikut tertarik menjadi floris.

Emil Ostra pun melakukan hal yang sama, “Natal kemarin saya impor 100 ikat dari Belanda.” Demikian pula Niar. “Menjelang lebaran tahun ini, saya harus impor sendiri sebanyak 4.900 tangkai, sebab khawatir tidak bisa mencukupi kebutuhan.” Me nurutnya, empat hari menjelang lebaran kebutuhannya sampai 200 ikat per hari. Sedangkan Shafuroh dari Echy florist, baru dapat memenuhi kebutuhan lebaran sekitar 30-40 ikat krisan. Malah menurut Evi Safuri, pimpinan Jaya Murni Flowers permintaannya bisa meningkat sampai 200 %, tapi baru terpenuhi 75 %. Setiap tahunnya, menurut Evi, ada peningkatan sampai 50 %.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here