Home Panen Padukan kompos baru dan lama untuk daur ulang media tanam jamur

Padukan kompos baru dan lama untuk daur ulang media tanam jamur

18
0

Persiapan untuk mendaur ulang media tanam jamur merang ialah membuat kompos baru dan mempersiapkan kompos lama yang masih ada dalam kubung. Pembuatan kompos baru mulai dilakukan saat petik hari ke 4-5. Ini perlu agar begitu masa petik habis (kompos dalam kubung siap dibalik), kompos baru sudah selesai dibuat. Pembuatan kom-pos baru memakan waktu seminggu.

Kompos oekas bertanam jamur merang bisa dipakai sekali lagi dengan panen 50 %. Terjadi penghematan bahan baku 75 % dan biaya 50 %.

Lazimnya kompos media tanam jamur merang harus dibuang setelah panen usai. Namun tidak dernikian dengan Suhar-diman. Berdasarkan ide seorang ahli jamur Taiwan, sejak 1990 ia mencoba mendaur ulang media tanam itu. Hasilnya, dari lima kubung dengan biaya produksi Rp 1,5 juta, ia berhasil memetik 2 ton jamur senilai Rp 3 juta.

Logikanya, kompos dan jerami untuk bertanam jamur merang cukup tebal dan yang diserap haranya hanya bagian atas. Bagian bawah, yang juga mengandung unsur hara, sedikit sekali dimanfaatkan. “Bagian bawah itulah yang dibalik ke atas. Ditambah lagi kompos baru sebanyak 25 %,” tutur Suhardiman. Dengan cara itu pembuatan kompos yang biasanya membutuhkan 20 kg jerami/m2 bisa ditekan menjadi hanya 1 kg. “Jadi, kita menghemat bahan baku. Meskipun panen hanya 50 % tapi tetap untung,” ujar pakar jamur dari Sukabumi ini.

 

Teknik daur ulang

Ada dua macam kompos baru yang harus dibuat, yakni kompos A (kompos landasan) dan kompos B (kompos penutup). Kompos A terbuat dari jerami kering yang dipotongpotong dan direndam air pada hari pertama. Jumlah jerami 25 % dibandingkan dengan jerami tanam pertama. Jadi, bila semula per meter persegi memakai jerami 20 kg, maka pada teknik daur ulang hanya 4 kg. Pada hari ketiga jerami ditambah 5 % kapur dan 10 % bekatul. Kemudian dibalik dan diaduk pada hari keenam. Keesokan harinya kompos sudah siap untuk dimasukkan ke kubung.

Itulah sebabnya, meskipun kuota Indonesia dibatasi, tiga perusahaan di Lampung, yaitu PT. Lampung Pelletizing Factory, PT. Indoppell Raya dan PT. Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory tidak pernah membatasi pemasukan dari petani. Para importir dari negara MEE menghendaki eksportir harus menyediakan stok terusmenerus.

Namun hambatannya tanaman singkong di Indonesia merupakan tanaman musiman. Panen bulan Juni sampai pengapalan di bulan November, kadang mundur sampai Januari. Hal ini sangat merugikan eksportir, karena biaya perawatannya besar.

Jalur tersebut berakhir di tangan konsu-men. Kalau sudah pada tingkat penjualan ini, harga menjadi iebih tinggi lagi sebab buah su-dah dipilah-pilah berdasarkan kualitasnya. Harganya yang dipatok berkisar Rp 700,00/kg, bahkan sampai Rp 1.500,00/kg jika kondisi buah prima.

Borongan lebih untung

Transaksi pembayaran pada tingkat petani dilakukan dengan cara hermacammacam. Bisa kontan, borongan (tebas), atau sistem sewa lahan. Pembayaran kontan umumnya dilakukan jika pemgambilan barang dilakukan di kebun. Caranya, setelah penim bangan yang disaksikan pembeli, uang diterima.

Sebenarnya dengan sistem ini petani akan mendapat keuntungan lebih tinggi karena harga akan jauh lebih mahal. Hanya resikonya, buah yang dibeli harus dipilih sehingga kemungkinan ada yang tidak terjual. Sementara cara borongan (tebas), se-mua buah bisa terjual, walaupun untuk yang diterima tidak sebaik cara kiloan. Kelebihan lain, cara borongan ini juga dapat memper-kirakan produksi alpukat terlebih dahulu se-hingga pendapatan sudah bisa tergambar sebelum penjualan berlangsung. Namun cara ini justru kurang menguntungkan pembeli. Oleh karena itu mereka lebih memilih cara sewa lahan. “90 % pembeli memilih sistem sewa 1ahan, selebihnya dengan sistem bo-rongan 8 °/0 dan kuintalan 2 °/0,” tutur Bu-nyamin.

Bahan baku kompos B kapas. Jika pada tanam pertama kompos B memerlukan 6 kg kapas/m2, di kompos baru ini cukup 4 kg/m2. Kapas dibasahi. Pada hari ketiga kapas diberi 5 % kapur dan 10 %-beka”tul. Hari keenam dibalik dan diaduk. Kemudian pada hari ketujuh siap dimasukkan ke kubung sebagai penutup kompos A.

Sementara itu di dalam kubung, usai masa petik, kompos bekas disemprot insek-tisida dulu agar serangga yang sering mengganggu musnah. Keesokan harinya kompos dibalik. Yang semula terletak di atas menjadi di bawah. Kompos baru (kompos A) yang sudah dipersiapkan diletakkan di atas kompos lama dan kemudian ditutup kompos 13.

Tahap selanjutnya pintu dan lubang angin ditutup rapat. Pasteurisasi dilakukan selama 8-10 jam sampai suhu mencapai .60 derajat C. Keesokan harinya, setelah suhu turun sampai 38-40 derajat C, dilakukan tebar bibit. Setelah bibit ditebarkan, dilakukan penyiraman.

Teknik daur ulang pernah dicoba oleh petani jamur di Karawang. Bedanya mereka hanya membalik dan mengaduk kompos bekas dan kemudian melakukan pasteurisasi. Tidak ada penambahan kompos baru. Hasilnya, tidak sebanding cara di atas sehingga tidak menguntungkan.

Menurut pengalamannya, dengan sistem ini, biaya yang dikeluarkan hanya Rp 10.000,00/pohon/tahun, untuk yang dapat memproduksi sekitar 100 kg buah. Resikonya, seluruh tanggungjawab terhadap tumbuhnya buah harus dipikul penyewa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here