Home Buah Para petani Garut Sukses Ciptakan Alpukat Unggul

Para petani Garut Sukses Ciptakan Alpukat Unggul

21
0

Alpukat di kabupaten Garut bisa tumbuh baik dan menghasilkan buah yang terkenal istimewa karena ketelatenan para petaninya. Luas areal pertanamannya pun meningkat. Menurut informasi dari Dinas Pertanian se-tempat, luas areal tanamnya tahun 1990 mencapai 3.005 ha, sementara tahun sebelumnya hanya 2.852 ha. Dari kelebihan ini pantas kalau Garut, terutama kecamatan Karangpawitan, dikenal sebagai sentra produksi alpukat, meskipun belum digarap maksimal. Di Garut sendiri masih jarang yang mengebunkan secara khusus Kebanyakan tanaman ini tumbuh di pekarangan, atau menjadi pagar pembatas saja. Kalaupun ada yang mengebunkan, biasanya ditumpangsari dengan palawija.

6,579 ton produksi alpukat Garut tahun 1990 dikirim Jakarta, Bogor, dan kota besar lainnya. Tidak jaranglangsung ke luar negeri. Berikut alur perjalanannya.

Kabupaten Garut memang berpotensi untuk pengembangan al-pukat, karena iklim dan kondisinya memungkinkan,” ungkap Ir. Tati Sri Hartati, Kasie Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan Garut. Menurut Tati, tanaman buah ini cocok tumbuh di berbagai jenis tanah yang ber-pH 5-7, dan curah hujan antara 1.500- 3.000 mm per tahun. Ketinggian yang dike-hendaki antara 200-1.000 m dpl. Walaupun demikian di ketinggian 0 m dpl atau 1.500 m dpl pun sebenarnya alpukat masih bisa tum-buh baik. Namun hasilnya tidak sebaik yang diharapkan. Yang penting temperaturnya ha-rus 15-30 derajat C.

 

Menurut catatan Biro Pusat Statistik (BPS) dan Asosiasi Produsen dan Eksportir Makanan Ternak Indonesia (ASPEMTI), volume ekspor gaplek Indonesia terus me-ningkat dari tahun ke tahun. Sebelum tahun 1987, ekspor kita belum bisa memenuhi ku-ota yang diberikan sebesar 825.000 ton per tahunnya.

Melihat keadaan ini Dinas Pertanian Propinsi Lampung mengambil kebijaksanaan menjadikan singkong sebagai tanaman prioritas ketiga setelah padi dan jagung, agar kuota yang kita terima bisa terpenuhi. Bahkan sejak tahun 1988 mulai ada permintaan dari negara Non MEE sebesar 21.436 ton dalam bentuk pellet. Sampai tahun 1990 permintaan dari negara Non MEE sudah mencapai 195.000 ton. Jumlah ekspor kita secara keseluruhan pada tahun 1990 mencapai 1.020.000 ton. Dengan harga terakhir USA $150 (Rp 288.300,00) untuk negara MEE dan USA $4Q (Rp 75.000,00) harga di negara Non MEE, nilai devisa yang kita terima mencapai Rp 237,8 milyar dari Negara MEE dan Rp 15 milyar dari negara Non MEE.

Gaplek Indonesia mempunyai harapan

Indonesia merupakan negara pemasok gaplek kedua di dunia setelah Thailand (lihat tabel 2). Akan tetapi, perbedaan jumlah yang diekspor sangat besar. “Padahal Indonesia punya potensi untuk mengembangkan gaplek. Tanah yang kita miliki masih luas dan belum semua dibuka, ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang cukup banyak,” ungkap Sujatmiko dari ASPEMTI kepada Trubus. Menurutnya, potensi ini sudah dibuktikan dengan jumlah ekspor yang terus meningkat dari tahun ke tahun (lihat tabel I).

“Jumlah kuota Indonesia pun sebenarnya bisa ditingkatkan, tetapi harus ada kerjasama yang baik antara eksportir pemerintah dan petani,” ujar Wijaya, wakil direktur dari PT. Lampung Pelletizing Factory, perusahaan milik raksasa singkong Dharmala. Hal senada juga dikatakan oleh Wakil direktur PT. Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory.

Jalur perjalanannya

“Menjuainya cukup mudah, petani tinggal menunggu di kebun saat panen tiba”, tutur Suryana, petani di kecamatan Wanaraja. Kenyataannya memang demikian, Suryana sendiri, setiap minggu menjual hasil panennya sebanyak 3-5 kuintal. Bisa ke pedagang pengumpul ataupun langsung ke bandar. Harga jual di petani berkisar Rp 150,00-Rp 400,00/kg di pohon. Artinya,semua biaya panen ditanggung bandar atau pedagang pengumpul.

Di tangan bandar dan pedagang pengumpul, alpukat dikemas dalam peti kayu untuk kemudian dikirim ke berbagai kota besar, setiap dua kali seminggu. Kemampuan tiap bandar rata-rata 5 ton buah. Ujang Muchydin, bandar dari kecamatan Karangpawitan misalnya, mengirim ke Bogor setiap hari Senin dan Kamis sebanyak 5-9 ton.

Sedangkan M. Gofur, juga seorang ban-dar, saat musim (banjir buah) bisa mengirim 14 ton buah setiap minggu ke Pasar Induk

Kramat Jati Jakarta. Untuk memenuhi kebu-tuhan itu tidak jarang Gofur mengerahkan anak buahnya mencari alpukat ke berbagai pelosok di wilayah Garut. Apalagi saat per-mintaan “meluap”, seluruh tenaga yang ada diikut sertakan, bahkan Gofurpun turun ta-ngan. Diakuinya, untuk mendapatkan buah alpukat saat itu sulit karena musim buah tidak serempak. Demikian pula yang dilakukan Bunyamin, petani yang merangkap pengumpul dan bandar. Di tingkat bandar atau pengumpul ini, harga bisa lebih tinggi lagi. Satu kilonya bisa Rp 250,00. Bahkan, kalau musim kemarau (umumnya bulan Maret, April, Mei) harganya Rp 600,00/kg.

Selanjutnya alpukat dikirim ke grosir di berbagai kota besar. Di tangan grosir, bUah dikelompokkan berdasarkan kualitasnya. Setelah pengelompokan, baru dipasarkan ke pedagang pengecer. Agus Sulaeman, grosir yang mangkal di Kota Bogor, misalnya, se-tiap minggu menjual 12-20 ton alpukat Garut. Berbeda dengan Udin, grosir di kota yang sama. Ia tidak menjual dagangannya ke pengecer tetapi langsung ke Hero Swalayan dan Es Teler 77, dengan jumlah 10 ton/minggu. “Namun tak jarang Udin memasok ke eksportir,” ungkap Ujang Muchydin, yang selalu memenuhi permintaannya.

Hasil panennya banyak dipasarkan ke Bogor, Jakarta, Cianjur, Tasikmalaya, Cire-bon, bahkan juga Bandung yang daerah Lembangnya dikenal sebagai penghasil alpukat. Menurut Bunyamin, pedagang pengumpul di kecamatan Karangpawitan, dari dua kecamatan saja sekitar 70 ton/minggu dikirim ke berbagai kota. Padahal-di Garut ada 8 kecamatan yang merupakan daerah pro-duksi alpukat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here