Home Panen Petani di Lampung Kaya Raya karena Ekspor Gaplek

Petani di Lampung Kaya Raya karena Ekspor Gaplek

23
0

Petani di Lampung, terutama Lampung Tengah dapat dipastikan menanam singkong. Tetapi sangat jarang petani yang betul-betul merawatnya. Pada umumnya petani menanam singkong secara tumpangsari dengan jagung. Pemupukan dan penyiangan yang dilakukan terutama ditujukan untuk tanaman jagungnya dan bukan untuk singkong, sehingga hasil yang diperoleh tidaklah maksimal. Seperti Wagiran, seorang petani di Gunung Sugih, Lampung Tengah yang dari satu hektar biasanya memperoleh hasil 30- 35 ton.

Lebih dari 200 milyar rupiah devisa negara yang dihasilkan oleh ekspor gaplek sebesar 1 juta ton. Tetapi kita masih kalah jauh dibandingkan dengan Thailand yang mampu melepas 8 juta ton lebih ke pasar dunia. Padahal, kita punya potensi yang tinggi.

Hampir di semua tempat di Indonesia bisa kita temui tanaman ubi kayu (singkong). Salah satu daerah penghasil yang besar adalah Lampung. Dari data di Biro Pu-sat Statistik tahun 1990 luas areal singkong di daerah ini mencapai 126.600 hektar dengan produksi sebesar 1.677.411 ton. Dari produksi sebesar itu empat puluh persennya diolah menjadi gaplek. Di Indonesia, gaplek umumnya digunakan sebagai bahan pengan-an kecil atau kue-kue. Sedangkan di luar negeri (negara-negara pengimpor) gaplek di-gunakan sebagai makanan ternak, khususnya sapi.

 

Lebih untung dibuat gaplek

Petani di Lampung, umumnya menjual singkongnya secara borongan, seharga Rp 600.000,00-Rp 700.000,00 setiap hektarnya. “Sebenarnya dengan cara kiloan lebih menguntungkan. Apalagi jika diolah menjadi gaplek”, ungkap Wari, seorang petani dari Gunung Sugih yang mempunyai areal singkong seluas dua hektar. Tetapi petani di daerah ini sangat jarang yang melakukannya. Faktor utama yang membuat mereka enggan adalah kurangnya tenaga kerja. Misalnya Karjani dan Wagiran yang merasa tidak pu nya waktu untuk membuat gaplek.

Sayangnya, alpukat masih merupakan tanaman pekarangan. Di Garut sendiri yang merupakan sentranya, alpukat hanya merupakan pagar pembatas yang kurang diperhitungkan sumbangannya terhadap pendapatan rumah tangga. “Padahal Garut poten-sial untuk alpukat karena iklim dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk tumbuh baik,” ungkap Ir. Tati Sri Hartati, Kasi Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Menurutnya, tanaman alpukat toleran terhadap berbagai jenis tanah, curah hu-jan maupun angin. Ketinggian tempat yang baik untuk alpukat adalah 200-1.000 dpl, meskipun di ketinggian 0 dan 1.500 masih tumbuh baik. Tanaman asal Amerika Tengah ini menghendaki pH antara 5-7 serta temperatur 15-30°C.

Peluang semakin cerah

Sekalipun keuntungan b.ertanam alpukat belum bisa dirasakan karena pengelolaannya tidak intensif. Namun karena permintaannya naik, pertanaman alpukat di Garut dari tahun ke tahun mengalami perkembangan. Luas areal di tahun 1990 sekitar 3.005 hektar, meningkat seluas 153 hektar dari tahun sebelumnya. Tapi dilihat dari total produksi malah merosor tahun sebelumnya 12.931 ton, di tahun 1990 turun menjadi 6.579 ton. Hal ini disebabkan antara lain karena peremajaan, di samping luas areal panen menurun dari 2.230 menjadi 1.392 hektar.

Disinyalir, masyarakat Surabaya sekarang mulai mengkonsumsi dalam jumlah banyak, sehingga Moga dan Batu yang biasanya mengisi kebutuhan konsumen Jakarta dan Bogor otomatis mengalihkan pemasaran. Di sisi lain pemanfaatan alpukat semakin beragam, yakni selain untuk jus atau es campur, juga enak dimakan dengan baso atau kopi, yang tentunya menambah besar permintaan. Es Teler 77 saja yang mempunyai 72 out let, memerlukan alpukat yang tidak sedikit. Menurut Sukyatno Nugroho, pemiliknya, “Sehari harus tersedia alpukat 300 kg per out let.” Jelas, permintaan alpukat akan semakin besar, apalagi ada alpukat yang lezat dimakan tanpa apa-apa, karena sudah punya rasa manis alami.

Yang biasa membuat gaplek adalah pe-dagang pengumpul dengan upah Rp 15,00 per kilonya. Menurut perhitungan Sholeh dan Wignyo, dari 100 ton singkong yang dikeringkan selama 5-7 hari (tergantung cuaca) akan menyusut menjadi 40 ton gaplek. Jika dihitung dari harga gaplek terendah saja, yaitu Rp 80,00, Sholeh atau Wignyo sudah memperoleh Rp 2,6 juta (sesudah dikurangi ongkos pembuatan gaplek Rp 15 per kilo). Ini tentu lebih menguntungkan daripada dijual singkong segar kiloan yang hanya memperoleh Rp 1,2 juta (harga Rp 30,00 per kilo). Apalagi dengan cara borongan yang hanya diperoleh Rp 600.000,00 tiap hektarnya. Itu baru perhitungan harga terendah.

Penyumbang devisa negara

Gaplek merupakan singkong olahan yang paling bergengsi saat ini. Betapa tidak, Kehadiran buah-buah lain juga banyak mempengaruhi tingkat harga. Bulan Februari misalnya, harga alpukat di tingkat petani ber-ada pada posisi terendah karena persaingan dengan duku, rambutan, manggis, dan durian. Di tingkat pengecer harga relatif stabil, antara Rp 700,00-1.500,00/kg, karena ada kecenderungan pengecer membiarkan alpukat busuk daripada dijual murah. Wajar bila perbedaan harga antar keduanya agak berlebih. Pedagang itu banyak menanggung resiko busuk di samping adanya tambahan biaya tataniaga. Diperhitungkan oleh Ujang Muchyidin, “untuk pengiriman ke grosir perlu tambahan sebesar Rp 50,00/kg sebagai biaya sortir dan transpor.” produk yang kurang banyak digunakan di Indonesia ini, bisa menyumbang devisa yang tidak kecil.

Bila harganya Rp 190,00 per kilo, tentu lebih besar lagi yang diperoleh Sholeh atau Wignyo. “Lebih untung lagi jika jumlahnya banyak, kita bisa menjualnya ke Eksportir dengan harga lebih tinggi,” ungkap Sholeh. Jika produksinya ba-nyak, mereka menjual langsung ke eksportir. Tetapi jika sedang sedikit, mereka jual ke pe-dagang pengumpul yang lebih besar lagi. Jika dijual sendiri akan rugi di ongkos transpor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here