Home Sayur Posisi Kentang Sayur di restoran fast food

Posisi Kentang Sayur di restoran fast food

12
0

Di restoran fast food ala “Franchaise”, sekalipun kentang goreng lebih banyak digunakan karena memang merupakan menu utama, kentang sayur juga tetap digunakan dalam jumlah yang tidak kecil.

Menurut data Biro Pusat Statistik 1989, ekspor kentang sayur Indonesia lebih dari 10 juta US $. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat karena belaKangan eksportirnya pun terus bertambah dengan nilai yang tidak kecil. Sementara di dalam negeri, kebutuhannya juga terus meningkat abat semakin banyak dan beragamnya penggunaan Kentang sayur.

Sementara Fried Chicken atau supermarket kerepotan mengimpor kentanggoreng (french fries) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, eksportir dan petani kentang Indonesia justru kerepotan memenuhi permintaan kentang sayur untuk keperluan dalam negeri dan ekspor.

Gambaran ini menunjukkan besarnya kebutuhan kentang. Lebih lebih setelah pola makan konsumen berubah, terutama masyarakat kota yang mulai banyak menggunakan kentang dalam menunya. Kebutuhan kentang goreng maupun kentang sayur sama banyaknva.

 

Menurut Fidel A Lionardi Marketing Manager Kentucky Fried Chicken, selain menggunakan 100 ton kentang goreng impor, mereka juga masih menggunakan 22,5 ton kentang sayur lokal untuk sup dan perkedel. Di supermarket atau pasar induk, kentang sayur lebih banyak di perdagangkan, menu masakan Indonesia memang lebih banyak menggunakan kentang sayur. Petani kentang sayur seperti H. Adung di Pangalengan, pada saat panen raya, mampu memasarkan sampai 60 ton per hari. Di tingkat petani, kentang sayur Iebih banyak ditanam karena jenis kentang goreng masih belum ada yang cocok dan bisa diterima pi hak fried chicken.

Itulah sebabnya di beberapa dataran tinggi seperti Dieng atau Pangalengan, persentasi tanaman kentang lebih banyak dibanding sayuran lain. Alasan mereka, selain pasarnya lebih terjamin, harganya juga lebih tinggi dibanding sayuran lain. Dari kelebihan ini, keuntungan yang diperoleh pun akan lebih besar. Hal ini diakui Tjahjono, Kasi Dipertan Wonosobo. Menurutnya, di Dieng (Wonosobo) sekalipun kentang disaingi sayuran lain seperti bawang putih dan kubis, namun areal bawang putih hanya sepertiga dari luas areal kentang, sedangkan kubis hanya merupakan tanaman sampingan setelah dua kali lahan itu ditanami kentang.

Kualitas tentukan pasar

Kemudahan pasar adalah alasan utama mengapa petani mengusahakan kentang. Hal ini dirasakan H. Ayi Sutarya, petani kentang asal Pangalengan. “Kami tidak harus membawanya ke pasar karena bandar pengumpul datang setiap panen,” ungkap H. Ayi. Malah menurutnya, yang BS (sisa, red) pun masih laku dengan harga setengahnya.

Pemasaran kentang bisa lebih mudah lagi jika produk yang ditawarkan berkualitas. Ka rena kentang yang baik dapat menembus pa sar yang lebih luas, • mulai dari bandar, pabrik, sampai ke eksportir. “Walaupun pasar tertentu kadang menuntut syarat yang ketat,” aku H. Adung yang memasok ke pabrik keripik kentang dan “snack”. Menurutnya, untuk memasarkan ke pabrik syaratnya harus varietas yang diinginkan dan suplai nya kontinu. Kentang yang dikirim juga ha rus berkualitas baik. Varietas yang kini banyak diminta Granola. Sementara umur yang dikehendPakar Pertanian antara 107 117 hari. Se bab, kalau terlalu muaa masth mengandung racun dan boros minyak sewaktu digoreng, sedangkan kalau terlalu tua ( .120 hari) kentang menjadi cepat hangus sewaktu digoreng. Pihak pabrik menghendaki ukuran seragam antara 50 125 gram atau berdiameter 4 7 cm. Alasannya, bila terlalu kecil akan menimbulkan “bubuk”, sedang bila terlalu besar, pe motongannya akan banyak menyita waktu dan pekerjaan.

Syarat ini, ternyata tidak disanggupi ba nyak pemasok. Padahal, jumlah yang diminta cukup besar. “Satu pabrik bisa menyedot semua produksi kentang Pangalengan,” tutur Adung yang kini memasok 9 truk per minggu (1 truk = 4 ton). Karena dari hasil panen Haji Adung yang 20 ton per ha per musim, paling banyak hanya sebanyak 6 ton yang memenuhi syarat untuk pabrik. Hanya, yang juga menguntungkan, harga jualnya lebih tinggi. Di pasar Induk, kentang ukuran AB (di bawah syarat ekspor) dihargai Rp 480,00 per kg. Sementara kentang ukuran BC, dijual seharga Rp 450,00 Rp 460,00 setiap kg nya.

Kualitas yang diminta pasar ekspor se perti Singapura tidak jauh berbeda dengan yang diminta pabrik kentang olah. Hanya, menurut Lie Ay Yen, Presiden Direktur PT Trans Pacifik eksportir kentang di Semarang, syaratnya menjadi lebih berat dan biayanya lebih tinggi karena perlu waktu angkut lebih lama dan harus menggunakan kontainer khusus.

Ekspor dan lokal sama

Faktor pasar, selalu menjadi penentu bagi investor yang mempertimbangkan untuk memulai usaha. Pasalitya, sekalipun harga komoditi itu tinggi, namun jika pasarfiya mu lai jenuh, pihak investor kadang tidak ber minat menggeluti usaha itu.

Yang menggembirakan dan meyakinkan investor peluang pasar kentang sayur justru besar. Di .dalam negeri, kentang sayur jenis Granola ini dijadikan bahan utama keripik kentang dan snack seperti chiki. Belum lagi kebutuhan untuk sayur yang kini terus berkembang karena pola konsumsi yang bergeser ke arah banyak menggunakan kentang.

Semakin besarnya penggunaan kentang kini dirasakan grosir grosir di Pasar Induk Kramat Jati. Elim misalnya, omzet penjualan nya kini menurun dari 10 ton per hari menjadi 5 ton, karena sebagian suplai dari Dieng, tersedot pasar Induk Cibitung. Keluhan yang sama juga dirasakan Edi Setiawan, grosir di pasar yang sama. Menurutnya, untuk men dapatkan 4 ton per hari mulai sulit karena ha rus bersaing dengan sesama grosir.

Harga kentang Indonesia harus mampu bersaing dengan kentang RRC dan Taiwan yang harganya bisa separonya. Di pasaran ekspor, PT Trans Pacific menjual grade A dan B seharga 9 10 $ Singapura per 20 kg. Menurutnya, sebagai eksportir mereka juga harus jeli karena tidak sedikit importir yang nakal dengan berbagai alasan mencoba klaim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here